Transformasi Diri LGBT

Proses transformasi diri

Masalah LGBT yang sekarang sedang ramai dibicarakan di berbagai media, sebenarnya bukan masalah baru. Beberapa tahun lalu sempat dibicarakan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Sepuluh tahun lalu permah ramai dibicarakan ketika muncul film boneka anak-anak Teletubbies, yang satu orang tokohnya boneka laki-laki yang berperilaku seperti perempuan. Banyak yang menyoroti film Teletubbies tersebut merupakan kampanye terselubung LGBT. Bahkan sejak jaman Majapahit dulu, sudah ada UU yang melarang perkawinan sejenis (Lihat buku Perundang-Undangan Madjapahit karangan Slamet Muljana  yang terbit tahun 1959). Akhirnya,diskusi tentang LGBT selalu merujuk pada kisah umat Nabi Luth yang dihancurkan oleh Allah karena perbuatan homoseksual. Dengan demikian persoalan LGBT adalah persoalan manusia sepanjang jaman. Persoalan ini menjadi besar saat ini karena memasuki ranah publik dengan berbagai dimensi politis.

Tulisan ini mencoba melihat masalah LGBT dalam dalam konteks ‘transformasi diri’, sebuah konsep yang diambil dari perspektif Psikologi Sufi. Ini adalah salah satu perspektif dalam Psikologi Islam yang mendalami tentang dimensi ruhani/spiritual dari diri manusia, termasuk perkembangan spiritualitas. Psikologi Sufi banyak mengacu pada literatur ilmu Tasawuf yang merupakan salah satu cabang ilmu dalam Islam yang bermuara pada dimensi Ihsan (selain Islam dan Iman). Salah satu tokoh di Psikologi Sufi adalah Prof. Robert Frager, yang juga pendiri psikologi transpersonal di Amerika.

 

Antara Jasmani dan Ruhani

Dalam perspektif Psikologi Islam pada umumnya, termasuk Psikologi Sufi, manusia adalah mahluk Allah di muka bumi yang diciptakan dari 2 unsur, yaitu unsur tanah yang rendah dan unsur ruh yang suci. Unsur tanah menjadikan manusia memiliki dimensi jasmani, dan unsur ruh menjadikan manusia memiliki dimensi ruhani. Dari interaksi kedua unsur itulah muncul dimensi diri pribadi (nafs) manusia. Jadi hakekatnya manusia itu adalah ruh yang men-jasmani atau jasmani yang me-ruhani. Manusia selalu dalam tarikan antara dimensi jasmani yang cenderung ingin bersenang-senang, mengikuti  dorongan biologis, seperti keinginan makan minum dan keinginan nafsu syahwat (seksual). Sementara itu dimensi ruhani mengajak manusia untuk kembali kepada asal mula hakekat manusia, taat selalu mengikuti perintah Allah swt.

            Sepanjang sejarah umatmanusia, pertarungan antara sisi jasmani dan sisi ruhani ini yang menimbulkan berbagai dinamika permasalahan. Diri (nafs) manusia ditentukan oleh unsur mana yang paling dominan. Oleh karena itu para Sufi sejak lama mengemukakan teori tentang tingkat-tingkat diri/jiwa manusia. Semakin banyak pengaruh jasmani, semakin rendah tingkat diri manusia. Semakin kuat pengaruh ruhani, maka semakin tinggi derajat manusia tersebut.

Tujuh derajat tingkat diri (nafs) manusia dalam tradisi tasawuf telah diulas dengan lengkap oleh Robert Frager (2015) maupun Mohammad Shafii (2004). Tingkat pertama adalahnafs tirani (nafs alammarah). Pada tingkat ini diri manusiadikuasai, diperintah atau didominasi oleh dorong-dorongan biologis, jasmaniah, atau hawa nafsu. Orang yang berada di tingkat ini cenderung mencari kesenangkesenangan dan kenikmatan, berpesta pora, berhubungan seksual dengan siapa saja, menggunakan narkoba. Bahkan mereka sudah tergantung dengan kesenang-kesenangan itu tanpa menyadari bahwa perbuatan itu tidak sesuai dengan nilai-nilai moral dan agama.

Tingkat kedua yaitu jiwa yang menyesali atau yang mencela diri (nafs al-lawwamah). Pada tingkat ini unsur ruhani sudah mulai muncul. Orang mulai menyadari perbuatan buruknya dan dampaknya bagi kehidupannya di dunia dan akherat, sehingga timbul penyesalan. Sudah ada keinginan untuk berubah, tapi belum bisa mengalahkan dorongan yang kuat pada nafsal-ammarah, sehingga dia melakukan perbuatan itu lagi, menyesal lagi, dan berbuat lagi. Seperti lingkarn setan yang tidak bisa diputus.

Tingkat ketigayaitujiwa yang  mendapat ilham (nafs al-mulhamah), yaitu diri manusia yang telah mendapat petunjuk dari Allah swt sehingga dia bisa membedakan antara yang benar dan yang salah. Tingkat keempatadalah jiwa yang tenang (nafs al-muthmainnah), yaitu diri manusia yang sudah terbebas dari pengaruh sifat hewani, menjadi manusia yang taat, pecinta kedamaian, dan merasa puas dengan apa yang ada. Tingkat kelima adalah jiwa yang ridho (nafs al-rodiyyah). Pada tingkat kelima ini manusia tidak hanya puas terhadap apa yang ada, tetapi juga menerimaberbagai kesulitan dan ujian kehidupan. Tingkat keenamadalah jiwa yang mendapat ridho (nafs al-mardiyya). Pada tingkat keenam ini seorang manusia menyadari seluruh kekuatannya untuk berbuat sesuatu datang dari Allah swt. Dia tidak lagi merasa takut terhadap segala sesuatu selain Allah swt. Tingkat ketujuh adalah  jiwa yang suci, yang sempurna (nafs al-kamilah). Pada tahap ini tidak ada lagi diri manusia, yang ada hanya Allah, mereka tidak memiliki kehendak selain kehendak Allah.

Transformasi diri

Allah berfirman dalam Al Quran surat Yusuf ayat 53: Dan aku tidak membebaskan diriku (darikesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha PenyanyangKonteks ayat ini adalah cerita ketika Nabi Yusuf digoda oleh istri dari seorang penguasa di Mesir yang mengjak untuk melakukan hubungan badan. Nabi Yusuf menolak ajakan itu karena takut kepada Allah. Beliau segera keluar dari kamar, tetapi bajunya ditarik oleh istri pejabat tersebut sehingga sobek.

Walaupun konteksnya adalah hubungan heteroseksual, namun kisah Nabi Yusuf di atas bisa diterapkan dalam konteks dorongan LGBT. Yang perlu ditegaskan di sini adalah bahwa berdasarkan ayat di atas, dorongan hawa nafsu manusia tidak selalu dan tidak selamanya jelek. Orang yang yang berada pada nafs al-ammarah tidak selamanya akan terjerat dalam perilakunya. Selalu ada harapan, karena Al Quran menyebutkan bahwa dorongan itu bisa baik, ketika “…. diberi rahmat oleh Tuhanku.”Bagi LGBT ini berarti masih ada ruang yang memungkinkan untuk berubah dan menjalani transformasi diri.

Robert Frager (2014) dalam bukunya Psikologi Sufi: untuk transformasi hati, jiwadan ruh menyebutkan bahwa transformasi diri merupakan proses perjuangan untuk meningkatkan diri manusia dari diri yang paling rendah (nafs-al-ammarah) menuju diri manusia yang paling tinggi yaitu diri manusia yang sempurna (nafs-al-kamilah). Frager menyatakan: “Pada tingkatannya yang terendah nafs adalah yang membawa kita pada kesesatan. Kita semua berjuang untuk melakukan hal-hal yang jelas-jelas kita ketahui harus kita lakukan. Kita kerap berjuang, bahkan lebih keras lagi untuk menghindari perilaku-perilaku yang yang kita ketahui sebagai hal yang buruk dan merusak.”(h. 103)

Frager selanjutnya menyatakan : “sama sekali tidak ada yang salah dengan ruh maupun jasad. Namun proses yang dihasilkan oleh keduanya dapat saja menyimpang.” Selanjutnya dikatakan: “ karena nafs berakar di dalam jasad dan ruh, ia mencakup kecenderungan material dan spiritual. Pada mulanya aspek material yang mendominasi, nafs (manusia) tertarik pada kesenangan dan keuntungan duniawi… ketika nafs bertransformasi, ia menjadi lebih tertarik  kepada Tuhan…  (h. 98-99)

Proses transformasi dari tahap nafs yang satu kepada tahap yang lain melalui jalan yang panjang. Frager menyatakan: “Banyak orang mengikuti kecenderungannyanya sendiri, seolah-olah kehendak pribadi mereka adalah Tuhan. Mereka ditarik kesana-kemari dari waktu ke waktu….(sementara itu)masyarakat Barat memberikan penghargaan yang tinggi terhadap kebebasan pribadi. Tapi bagi kebanyakan mereka, ini hanyalah kebebasan untuk menuruti kecenderungan rendah mereka semata. Berlawanan dengan itu, ketundukan terhadap yang bersifat spiritual adalah awal dari kebebasan hakiki, sebab ia merupakan awal dari kebebasan dari nafsal-ammarah (h. 100).

Dalam perspetif psikologi Sufi, semua manusia membutuhkan transformasi diri,tidak  hanya LGBT, untuk dapat mencapai derajat kehidupan manusia yang lebih tinggi, agar pengaruh unsur tanah yang rendah tidak sampai menguasai unsur ruh yang suci. Pada tahap awal, transformasi diri cukup dari level satu yaitu darinafs al-amarah menuju level dua yaitu nafs al-lawwamah. Dari kecenderungan mengikuti dorongan biologis dan merasa menikmatinya tanpa merasa bersalah sekali, menuju tahap manusia yang mencela diri sendiri, menyesal dengan perbuatan yang tidak sesuai ajaran agama.

Transformasi diri pada tahap nafs al-lawwamah tampaknya belum cukup.Nafs al-lawwamah memang sudah cukup baik, sudah ada penyesalan. Namun dorongan biologis masih sangat kuat, sehingga orang akan mudah terseret lagi untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan aturan agama.  Paling tidak satu level transformasi lagi yang dibutuhkan, yaitu nafs al-mulhamah, yaitu tingkat jiwa yang mendapat ilham.Nafs al-mulhamah lebih stabil. Kekuatan untuk melawan kecendungan dorongan hawa nafsu syahwat sudah cukup kuat. Tapi belum cukup kuat untuk menepis pengaruh-pengaruh dari luar. Dia masih membutuhkan pendamping yang bisa memahami dan mengontrol perilakunya. Ibarat seorang anak dia baru bisa berjalan.

Peran Pendamping

            Proses transformasi diri bukanlah sesuatu yang mudah bagi semua orang. Apalagi bagi LGBT. Hambatan yang dialami LGBT tidak hanya bagaimana mengendalikan dorongan syahwat tersebut, tapi juga bagaimana mengarahkan kepada objek yang benar. Oleh karena itu dibutuhkan seseorang yang senantiasa mendampingi dalam proses transformasi diri. Pendamping tersebut berfungsi untuk memonitor proses yang dialami, memberikan konseling, dukungan, pengarahan dan bimbingan mencapai tujuan trasnformasi. Konseling-konseling psikologis yang ditawarkan oleh beberapa lembaga akan sangat bermanfaat, terutama konseling psikologis yang diberikan oleh psikolog yang profesional yang memiliki perspektif keagamaan (Islam).

Namun masalahnya tidak semua konselor dan psikolog memiliki perspektif yang berbeda-beda. Konseling psikologi yang diberikan oleh psikolog yang berorientasi pada psikologi Barat modern, cenderung bersifat sekuler dan mengikuti pemikiran Barat. Konseling yang berwawasan seperti ini beranggapan bahwa perilaku LGBT sepanjang tidak menimbulkan rasa bersalah tidak perlu dipermasalahkan. Namun jika orang yang mengalami kecenderungan LGBT tersebut mengalami kegalauan dan rasa bersalah karena perilakunya, maka justru mereka dikategorikan sebagai orang yang bermasalah, yang memenuhi kriteria gangguan orientasi seksual ego distonik. Jadi rasa bersalah di sini ditafsirkan oleh konselor yang mengikuti konsep psikologi Barat sebagai sesuatu yang patologis.

Konselor yang berwawasan psikologi Islam memiliki perspektif yang berbeda. Dalam perspektif psikologi yang berbasis religious, rasa bersalah, sepanjang tidak berlebihan, justru merupakan sesuatu yang positif. Oleh karena itu konseling psikologis yang Islami untuk kasus LGBT justru diusahakan supaya timbul insightdan bahkan memunculkan rasa bersalah. Dalam perspektif psikologi Islam rasa bersalah pada diri manusia sangat penting sebagai awal dari transformasi diri. Rasa bersalah akan memunculkan sikap dan perilaku taubat, yang selanjutnya akan membuat seseorang kembali kepada Allah swt.

Proses transformasi diri tidak hanya berhenti pada ranah psikologis semata, namun juga memasuki wilayah spiritual, ruhaniah. Terutama ketika memasuki tingkat nafs al-mulhamah, nafsal-muthmainnah sampai ketingkat tertinggi nafs al-kamilah (yang sering disebut dengan istilah Insan Kamil).   Psikologi Barat belum memiliki banyak pemahaman dan ketrampilan membimbing orang sampai pada tahap ini. Oleh karena itu di sini dibutuhkan seorang pembimbing ruhani yang di dalam tradisi tasawuf Islam disebuts ebagai Mursyid.

Wallahua’lam bi ashshawab.

Dimuat di harian Republika, 20 Februari 2016.

Berikan Komentar Tentang Ini :

Komentar