Perbedaan Etika dan Etiket Beserta Contohnya

Perbedaan Etika dan Etiket Beserta Contohnya – Pengertian Etika dan Etiket menurut Para Ahli

Etika dan EtiketDalam rangka menjernihkan istilah, harus kita simak lagi perbedaan antara “etika” dan “etiket”. Kerap kali dua istilah ini campuradukkan begitu saja, padahal perbedaan di antaranya sangat hakiki. “Etika” di sini berarti “moral” dan “etiket” berarti “sopan santun” (tentu saja, di samping arti lain : “secarik kertas yang ditempelan pada botol atau kemasan barang”). Jika kita melihat asal-usulnya, sebetulnya tidak ada hubungan antara dua istilah ini.

Hal inimenjadi lebih jelas, jika kita membandingkan bentuk kata dalam bahasa inggris, yaitu ethics dan etiquette. Tetapi dipandang menurut artinya, dua istilah ini memang dekat satu sama lain. Di samping perbedaan, ada juga persamaan. Mari kita mulai dengan persamaan itu. Pertama, etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Istilah-istilah ini hanya bisa pakai manusia. Hewan tidak mempunyai etika maupun etiket. Kedua, baik etika maupun etiket mengatur perilaku manusia secara normative, artinya member norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Justru karena sifat normative ini kedua istilah tersebut mudah dicampuradukkan.

 Namun demikian, ada beberapa perbedaan sangat penting antara etika dan etiket. Di sini kita akan mempelajari sepintas empat macam perbedaan :

– Etiket menyangkut cara seuatu perbuatan harus dilakukan manusia. Di antara beberapa cara yang mungkin, etiket mununjukkan cara yang tepat, artinya, cara yagn diharapkan serta ditentukan dalam suatu kalangan tertentu. Misalnya, jika saya menyerahkan sesuatu kepada atasan, saya harus menyerahkannya dnegan menggunakan tangan kana. Dianggap melanggar etiket, bila orang menyerahkan sesuatu dengan tangan kiri. Tetapi etika tidak terbatas pada cara dilakukannya suatu perbuatan; etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh dilakukan ya atau tidak. Mengambil barang milik orang lain tanpa izin, tidka pernah diperbolehkan. “Jangan mencuri” merupakan suatu norma etika. Apakah orang mencuri dengan tangan kanan atau tangan kiri di sini sama sekali tidak relevan. Norma etis tidak terbatas pada cara perbuatan dilakukan, melainkan menyangkut perbuatan itu sendiri.

– Etiket hanya berlaku dalam pergaulan. Bila tidak ada orang lain hadiri, atau tidak ada saksi mata, maka etiket tidak berlaku. Mislanya, ada banyak peraturan etiket yang mengatur cara kita makan. Dianggap melanggar etiket, bila kita makan sambil berbunyi atau dengan meletakkan kaki di atas meja, dan sebagainya. Tapi kalau saya makan sendiri, saya tidak melanggar etiket, bila makan dengan demikian. Sebaliknya, etiket selalu berlaku, juga kalau tidak saksi mata. Etika tidak tergantung pada hadir tidaknya orang lain, hadir atau tidak. Barang yang dipinjam selalu harus dikembalikan, juga jika pemiliknya sudah lupa.

– Etiket bersifat relative. Yang dianggap tidak sopan dalam satu kebudayaan,  bisa saja dianggap sopan dalam kebudayaan yang lain. Contohnya yang jelas adalah makan dengan tangan atau tersedawa waktu maka. Lain hanya dengan etika. Etika jauh lebih absolute. “Jangan mencuri”, “Jangan berbohong”, “Jangan membunuh” merupakan prinsip-prinsip etika yang tidak bisa ditawar-tawar atau mudah diberi “dispensasi”. Memang benar, ada kesulitan cukup besar mengenai absolutan prinsip-prinsip etis yang akan dibicarakan lagi dalam bagian ini. Tapi tidak bisa diragukan, relativitas etiket jauh lebih jelas dan juah lebih mudah terjadi.

– Jika kita berbicara tentang etiket, kita hanya memandang manusia dari segi lahiriahnya saja, sedang etika menyangkut manusia dari segi dalam. Bisa saja orang tampil sebagai “musang berbulu ayam” : dari luar sangat sopan dan halus, tapi di dalam penuh kebusukan. Banyak penupu berhasil dengan maksud jahat mereka, justru karena penampilannya begitu halus dan menawan hati, sehingga mudah meyakinkan orang lain. Tidak merupakan kontra-diksi, jika seseorang selalu berpegang pada etiket dan sekaligus bersifat munafik tpai orang yang etis sifatnya tidak mungkin bersikap munafik, sebab seandainya dia munafik, hal itu dengan sendirinya berarti ia tidak bersikap etis. Di sini memang ada kontrakdiksi. Orang yang bersikap atis adalah orang yang sungguh-sungguh baik. Sudah jelaslah kiranya bahwa perbedaan terakhir ini paling penting di antara empat perbedaan yang dibahas tadi.

Setelah mempelajari perbedaan atara etika dan etiket ini, barangkali tidak sulit untuk disetujuan bahwa konsekuensinya cukup besar, jika dua istilah ini dicampuradukkan tanpa berpikir panjang.Bisa sampai fatal—dari segi eti–, bila orang menganggap etiket saja apa aygn sebenarnya termasuk lingkup moral. Juga tentang istilah-istilah lain yang kita pakai dalam konteks ini haruslah jelas kita maksudkan etika atau etiket. Misalnya, jika kita berbicara tentang “susila”, “kesusilaan”, “tata karma”, “budi pekerti”, kita mengambil istilah-istilah ini dari lingkup etika atua dari lingkup etiket? Karena ketidakjelasan itu dalam buku ini kita tidak akan menggunakan kata seperti “kesusilaan”.

Di sisi lain, istilah yang jelas termasuk lingkup etika janganlah diperlakukan seolah-olah termasuk lingkup etiket. Menurut pendapat kami, hal itu dilakukan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi 1988) tentang kata “moralitas” yang dijelaskan sebagai “sopan santun”. Padahal, sesuai dengan pemakaian internasional sudah mejadi kebiasaan umum memasukkan “moralitas” ke dalam lingkungan etika, bukan lingkup etiket.

Berikan Komentar Tentang Ini :

Komentar