Pengungsi Gunung Agung Berpotensi Mendapatkan Masalah Psikologi

Sejumlah pengungsi Gunung Agung beraktivitas di tempat penampungan di GOR Suwecapura, Klungkung, Bali, Kamis (28/9). Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga saat ini jumlah pengungsi Gunung Agung telah mencapai 104.673 orang yang tersebar di berbagai lokasi di seluruh Bali. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/kye/17.

Permasalahan psikologis mulai melanda para pengungsi Gunung Agung. Berdasar data terakhir, hingga akhir September 2017, Dinas Kesehatan Provinsi Bali menemukan 24 pengungsi yang mengalami gangguan psikologis. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12 orang pengungsi telah dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa Bangli.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Ketut Suarjaya menjelaskan, 12 pengungsi yang dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa Bangli terindikasi mengalami gangguan psikologis sejak awal, sebelum mereka menempati tempat pengungsian.

Semenjak tinggal di pos pengungsian GOR Klungkung sejak tanggal 24 September 2017 lalu, Luh mengalami rutinitas yang cenderung sama. Sungguh tak banyak yang bisa ia lakukan, selain membantu pengungsi lain memasak di pagi hari, makan kemudian, lalu tidur.

Di pos pengungsian GOR Klungkung ini, setidaknya telah berjubel sekitar 1.500 orang. Mereka terdiri dari ratusan kepala keluarga yang hingga saat ini masih menunggu nasib mereka.

“Masih mending di kampung. Kan ada kerjaan. Kalau di sini tidur, bangun, masak pagi-pagi, makan, bosan. Begitu terus. Tidak ada kepastian, tidak ada tujuan hidup,” kata Luh sebagaimana dikutip Vice.

Terkait itu, Kepolisian Daerah (Polda) Bali, melalui Biro Sumber Daya Masyarakat telah mengerahkan petugas khusus untuk meredam dampak psikologis yang sangat mungkin dialami oleh para pengungsi.

“Tujuannya menambah energi positif bagi psikologi mereka,” kata AKBP Eka Sariana Himawati, Kepala Bagian Psikologi Biro Sumber Daya Masyarakat Polda Bali di Klungkung.

Psikolog anak sekaligus Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi mengatakan, diantaranya ribuan pengungsi, anak-anak merupakan unsur yang paling membutuhkan perhatian dan penanganan khusus.

Menurut Kak Seto –sapaan akrabnya, dalam kunjungannya ke salah satu pos pengungsian di Gelanggang Olahraga (GOR) Swecapura, Klungkung beberapa waktu lalu, ia mengamati bagaimana kehidupan pengungsian yang tidak kondusif dapat sangat memengaruhi kondisi psikologi anak.

Hal terpenting yang harus dilakukan untuk memelihara kondisi psikologi para pengungsi anak, dikatakan Kak Seto adalah dengan menggalang mereka dalam satu kegiatan yang mampu meningkatkan nilai kebersamaan untuk menjaga atmosfer ceria antara mereka. Hal tersebut, dikatakan Seto sangat penting untuk melindungi para pengungsi anak dari gangguan psikologi dan trauma pada masa mendatang.

“Anak-anak ini kan lebih rentan. Jadi memang harus ada upaya perlindungan terhadap mereka, agar anak-anak yang rentan terhadap masalah-masalah yang dapat mengganggu pertumbuhan mereka ini dapat diselamatkan,” kata Kak Seto kepada Okezone, Senin (9/10/2017).

Sementara itu, puluhan warga binaan turut memberikan kontribusinya. Tak sekadar memberikan hiburan, pada warga binaan dari Rumah Tahanan Kelas IIB, Klungkung ini pun turut memberikan pelatihan mendaur ulang barang tak terpakai menjadi benda-benda layak jual.

Sumber: OkeZone

Berikan Komentar Tentang Ini :

Komentar