Moralitas sebagai Ciri Khas Manusia

 Moralitas sebagai Ciri Khas Manusia – Contoh Moralitas dalam Kehidupan Sehari-hari

Moralitas sebagai Ciri Khas ManusiaBanyak perbuatan manusia berkaitan dengan baik atau buruk, tapi tidak semua.Ada juga perbuatan yang netral dari segi etis.Bila pagi hari saya mengenakan lebih dulu sepatu kanan dan baru kemudian sepatu di kiri, perbuatan itu tidak mempunyai hubungan dengan baik atau buruk. Boleh saja sebaliknya: sepatu kiri dulu dan baru kemudian sepatu kanan. Mungkin cara yang pertama sudah menjadi kebiasaan saya. Mungkin cara itu lebih baik dari sudut efisiensi atau lebih baik karena cocok dengan motorik saya, tapi cara pertama atau kedua tidak leibh baik atau buruk dari sudut moral.

Perbuatan itu boleh disebut “amoral”, dalam arti seperti sudah dijelaskan: tidak mempunyai relevansi etis. Dan tidak sulit untuk memikirkan banyak contoh lain lagi tentang perbuatan yang bisa dianggap amoral dalam arti ini. Tapi lain halnya, bila saya sebagai bapak keluarga membelanjakan gaji bulanan lebih dulu untuk hobby saya (memotret, berwisata, atau—lebih jelek lagi—main judi) dan baru kalau masih ada sisi saya serahkan kepada keluarga. Perbuatan terakhir itu tanpa ragu-ragu akan dinilai “tidak etis” atau “immoral” atau “buruk dari sudut moral”, karena sebagai bapak keluarga saya mempunyai kewajiban mengutamakan istri dan anak-anak di atas kebutuhan atau kesenangan pribadi.

Baik dan buruk dalam arti etis seperti dimaksudkan dalam contoh terakhir ini memainkan peranan dalam hidup setiap manusia. Bukan saja sekarang ini tapi juga di masa lampau. Ilmu-ilmu seperti antriopologi buadya dan sejarah memberitahukan kita bahwa pada semua bangsa dan dalam segala zaman ditemukan keinsafan tentang baik dan buruk, tentang yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Akan tetapi, segera perlu ditambah bahwa tidak semua bangsa dan tidak smeua zaman mempunyai pengertian yang sama tentang baik dan buruk. Ada bangsa atau kelompok sosial yang mengenal “tabu”, sesuatu yang dilarang keras (misalnya, membunuh binatang tertentu), sedangkan pada bangsa atau kelompok sosial lainnya perbuatan-perbuatan yang sama tidak terkena larangan apa pun. Dan sebaliknya, ada hal-hal yang di zaman dulu sering dipraktekkan dan dianggap biasa saja, tapi akan ditolak sebai tidak etis oleh hampir semua bangsa berabad sekarang ini. Sebagai contoh dapatdisebut : kolonialisme, perbudakan dan diskriminasi terhadap wanita. Jadi, semua bangsa mempunyai pengalaman tentang baik dan buruk, tapi tidak selalu ada pendapat yagn sama tentang apa yang harus dianggap baik atau buruk. Di sini tentu timbul pertanyaan-pertanyan yang harus dibicarakan lagi dalam buku ini. Untuk sementara cukuplah, bila kita bersepakat bahwa pengertian tentang baik dan buruk merupakan sesuatu yang umum, yang terdapat di mana-mana dan di segala zaman. Dengan kata lain, moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal.

Tapi bukan saja moralitas merupakan suatu dimensi nyata dalam hidup manusia, baik pada tahap perorangan maupun pada tahap sosial, kita harus mengatakan juga bahwa moralitas hanya terdapat pada manusia dan tidak terdapat pada makhluk lain. Makhluk yang paling dekat dengan manusia tentunya binatang. Karena itu dalam filsafat di masa lampau acap kali diusahakan untuk menentukan kekhususan manusia dengan membandingkannya dengan binatang. Banyak filsuf berpendapat baha manusia adalah binatang plus : binatang dengan ditambah suatu perbedaan khas. Apakah perbedaan khas itu? Pertanyaan ini oleh pelbagai filsuf dijawab dengan cara yang berbeda-beda. Diantara jawaban-jawaban yang pernah diberikan dapat didengar : perbedaan khas itu adalah rasio, bakan untuk menggunakan bahasa (atau lebih luas : menggunakan symbol), kesanggupan untuk tertawa, untuk membikin alat-alat dan seterusnya. Mungkin semua cirri ini dapat diterima sebagai sifat-sifat khas manusiawi, tapi sekurang-kurangnya harus ditambah satu lagi : manusia adalah binatang – plus karena mempunyai kesadaran moral. Moralitas merupakan suatu ciri khas manusia yang tidak dapat ditemukan pada makhluk di bawah tingkat manusiawi. Pada tahap binatang tidak ada kesadaran tentang baik dan buruk, tentang yang boleh dan yang dilarang, tentang yang harus dilakukan dan tidak pantas dilakukan.

Untuk mengerti perbedaan antara binatang dan manusia ini dengan lebih baik, perlu kita simak sebenar kata “harus” dalam sebutan “harus dilakukan” tadi. Ternyata ada dua macam “keharusan” : kaharusan alamiah dan keharusan moral. Kita perhatikan saja kalimat-kalimat berikut ini  : “Bila lebih dari separuh tiangnya digergaji, rumah itu harus roboh”. “Pena yang dilepaskan dari tangan harus jatuh”. Keharusan dalam contoh-contoh ini didasarkan atas hukum alam. Alam sudah diatur demikian rupa, sehingga pena yang tidak lagi dipegang tangan pasti akan jatuh. Keharusan itu dijalankan secara otomatis. Tidak perlu ada instansi yang mengawasi agar hal itu akan terjadi. Itu akan terjadi dengan sendirinya.

Lain halnya dengan “keharusan” dalam kalimat-kalimat berikut ini : “Barang yang dipinjam harus dikembalikan”, “Karyawan harus diberi gaji yang adil”. Keharusan terakhir ini didasarkan atas suatu hukum lain : suatu hukum moral. Hukum moral tidak dijalankan “dengan sendirinya”. Buku-buku yang dipinjam tidak otomatis kembali ke perpustakaan. Seandainya begitu, tak urung banyak pustakawanakan gembira sekali, tapi—sayangnya—pada kenyataannya tidak terjadi demikian. Hukum moral merupakan semacam imbauan kepada kemauan manusia. Bola yang dilemparkan ke udara mau tidak mauakan jatuh ke tanah; kemauan di sini tidak memainkan peranan. Tapi manusia harus mau dulu, sebelum ia mengerjakan sesuatu. Dapat dikatakan juga, hukum moral mewajibkan manusia. Keharusan moral adalah kewajiban. Pena tidak diwajibkan jatuh, bila dilepaskan dari tangan. Orang yang mengatakan demikian, menggunakan bahwa dengan cara aneh, karena kata “kewajiban” dikhususkan unutk keharusan moral saja. Keharusan moral didasarkan pada kenyataan bahwa manusia mengatur tingkah lakunya menurut kaidah-kaidah atau norma-norma. Norma-norma adalah hukum, tapi manusia harus menaklukkan diri pada norma-norma itu. Manusia harus menerima dan menjalankannya.

Beberapa bahasa modern dapat menyatakan perbedaan antara keharusan alamiah dan keharusan moral itu. Dalam bahasa Inggris, umpamanya, kata must, should dan ought to ketiga-tiganya berarti “harus” , tapi must secara khusus dipakai dalam arti keharusan alamiah, sedangkan should dan ought to dipakai dalam arti keharusan moral. Dalam bahasa Jerman kata mussen menunjukkkan keharusan moral alamiah dan kata sollen digunakan dalam arti keharusan moral.

Sesudah selingan ini kita kembali ke perbedaan antara manusia dan binatang tadi. Pada tahap binatang keharusan hanya terdapat dalam bentk keharusan alamiah. Bila dihidangkan makanan kepada seekor anjing dan ia kebetulan dalam keadaan lapar, anjing itu harus makan. Hal itu tidak lain daripada suatu keharusan alamiah saja. Dalam keadaan yang sama manusia juga ingin sekali makan tapi—kalau mau—ia  bisa berpuasan. Memang benar, binatang jinak kadang-kadang memberi kesan seolah-olah taat pada hukum moral. Sering kita lihat, anjing “tahu” bahwa ia tidak boleh masuk rumah, bahwa ia harus tinggal di luar. Tapi keharusan itu bukan keharusan moral yang datang dari dalam. Keharusan itu hanya hasil latihan dank arena itu akhirnya berasal dari manusia. Anjing tidak masuk rumah, karenaia akan dipukul bila masuk, seperti telah berulang kali dialaminya sebelumnya. Keharusan itu dipaksakan padanya dari luar. Moralitas dalam arti yang sebenarnya tidak memegang peranan dalam hidup seekor binatang. Moralitas selalu mengandaikan adanya kebebasan.

Berikan Komentar Tentang Ini :

Komentar