Metode dalam Filsafat Manusia

Metode dalam Filsafat Manusia – Metode Refleksi dalam Filsafat Manusia

Metode dalam FilsafatFilsafat bersifat interogatif. Ia mengajukan persoalan-persoalan dan mempertanyakan apa yang tampak sebagai sudah jelas. Ilmu pengetahuan mengemukakan pertanyaan. Filsuf memberikan pertanyaan ke jantung hal-hal atau sampai ke akar persoalan. Metodenya bersifat diagonal atau menurut ungkapan dialektik. Plato melalui diskusi antara guru dan murid kemudian dikemukaan persoalan yang setapak demi setapak demi mencapai pemecahan.

Dialektik merupakan hasil pengumpulan, penjumlahan, dan penilaian kritik dari semua opini yang didapatkan dari sesuatu masalah yang telah dikemukaan. Aristoteles selalu memulai dulu dengan mengemukaan apa yang telah dia katakan tentang masalah oleh para pendahulunya. Pada Hegel, dialektik menjadi cara yang mulai dengan memperlawankan dua ide yang saling bertentangan lalu mendamaikan mereka dengan unsur ketiga yang mengandung kedua ide itu dan merupakan sintesis daripadanya.

Metode filsuf pada aliran Descartes disebut aliran filsafat bersifat refleksif. Sang filsuf hendaknya penuh perhatian terhadap gejala-gejala terutama dalam arti luas sebab ia berpendapat bahwa sang filsuf hendaknya penuh perhatian terhadap gejala-gejala. Mulai dari Husserl di Jerman, metode filsaat diklasifikasikan fenomologis. Filsafat ingin menjelaskan gejala-gejala secara objektif mungkin menurut bagaimana gejala itu menampilkan diri terhadap kesadaran.

Keterbatasan metode observasi dan eksperimentasi tidak memungkin ilmu-ilmu tentang manusia untuk melihat gejala manusia secara utuh dan menyeluruh. Hanya aspek dan bagian tertentu manusia yang bisa disentuh oleh ilmu-ilmu tersebut. Psikologi sebagai auatu ilmu, misalnya lebih menekankan pada aspek psikis dan fisiologis manusia sebagai suatu organisme dan tidak bersentuhan dengan pengamalan-pengalaman subjektif, spritual dan eksistensional. Antropologi dan sosiologi lebih mnfokuskan pada gejala budaya dan pranata sosial manusia dan tidak bersentuhan dengan pengalaman dan gejala individual.  Bahkan dalam suatu cabang ilmu itu sedniri bisa terjadi spesialisasi-spesoialisasi dalam menelaah sub-sub aspek gejala manusia.

Banyak aspek positif yang bisa dipetik dari hasil penelitian ilmu tentang manusia, baik secara praktis maupuan secara teoritis. Berbeda  dengan ilmu-ilomu tengtang manusia, Filsafat manusia yang menggunakan metode sintesis dan reflektif itu mempunyai ciri-ciri ekstensif, intensif dan kritis. Penggunaan metode sintesis dalam filsafat manusia yang mensistensiskan pengalaman dan pengetahuan kedalam satu visi. .

Penggunaan metode refleksi dalam filsafat manusia tampak dari pemikiran filsafat dasar yang menunjukan dua hal, yaitu :

  1. pertanyaan tentang esensi suatu hal, misalnya apakah esensi keindahan itu, apakah esensi kebenaran itu, apakah esensi manusia itu dst.
  2. pada proses pemahaman diri (self-understanding) berdasarkan pada totalitas gejala dan kejadian manusia yang sedang direnungkannya.

Dengan demikian ada kemungkinan  dalam filsafat manusia terdapat keterlibatan pribadi dan pengalaman subjektif dari beberapa filsuf tertentu pada setiap apa yang dipikirkannya dan bersikap objektif. Tugas seorang ilmuan adalah mengamati, mengukur (dengan statistik), menjelaskan dan memprediksikan dalam bentuk bahasa ilmiah, ditambah dengan angka-angka, tabel-tabel atau grafik-grafik. Kemunkinan untuk terlibat atau tidak netral, relatif sangat kecil karena nilai-nilai yang sifatnya subjektif dan manusiawi tidak dapat durmuskan secara statistik dalam bentuk angka atau grafik.

Ada suatu yang khusus dari filsafat manusia yang tidak dapat di dalam ilmu-ilmu tenmtan manusia. Kalau ilmu adalah netral dan bebas nilai, ilmu berkenaan dengan das sain (kenyataan sebagaimana adanya). Nilai darimanapun asalnya dan apapun bentuknya, diupayakan untuk tidak dilibatkan dalam kegiatan keilmuan. Nilai dipandang sebagai suatu yang ” subjektif” dan “tidak bisa diukur”, sehingga keberadaannya dianggap tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Sebaliknya, dalam filsafat manusia, bukan hanya das Sein yang dipertimbangkan, tapi juga das Sollen (kenyataan yang seharusnya). Ini berarti bahwa nilai selain dipandang subjektif tapi juga idel, mewarnai kegiatan filsafat manusia.Nilai-nilai, apakah itu nilai personal, sosial, moral, religius ataupun kemanusiaan, bukan barang haram atau terlarang di dalam filsafat manusia. Itulah sebabnya kita tidak perlu heran kalau Karl Marx menganjurkan kepada para filsul bahwa tugas mereka sekarang bukan lagi menerangkan dunia (das sein), tetapi mengubah dunia (das sollen). Kita tidak perlu heran kalau Nietzsche mengajak kita untuk mendobrak kebudayaan yang lembek, mapan, bodoh dan cepat puas diri (berasal dari moral budak), dan menggantinya dengan kebudayaan yang adikuasa, megah, kompetitif, perkasa, hebat dan berani (berasal dari moral Tuan)

Berikan Komentar Tentang Ini :

Komentar