Mengapa Manusia Cenderung Melakukan Konformitas

Mengapa Manusia Cenderung Melakukan Konformitas – Kapan Manusia Harus Berkonformitas?

Konformitas

Beberapa situasi harus memicu orang untuk berkompromi/ menyesuaikan, sedangkan beberapa situasi yang lain tidak perlu. Beberapa peneliti telah membuktikan bahwa konformitas itu sangat penting khususnya jika sebuah kelompok memiliki tiga orang atau lebih & bersifat kohesif serta memiliki status yang tinggi.

  • Group size (ukuran kelompok)

            Didalam eksperimen laboratorium sebuah kelompok tidak perlu besar untuk memiliki efek yang besar. Asch & peneliti-2 lain menemukan bahwa tiga hingga lima orang akan lebih dapat berkonformitas daripada 1 atau 2 orang. Bib Latane mengasumsikan bahwa pengaruh sosial meningkat sejalan dengan kesiapan & ukuran sebuah kelompok.

–   Unanimity (kebulatan suara)

            Yaitu ketika dalam sebuah kelompok para anggota berkonformitas karena perihal yang mereka bahas sudah saling setuju dengan kebulatan suara bersama.

  • Cohesion (kohesi)

            Adalah perasaan yang mana para anggota dalam sebuah kelompok semuanya terikat & terjalin bersama mungkin karena satu sama lain saling menarik & memperhatikan.

  • Status

            Dalam berkonformitas, status ternyata menduduki peran yang cukup tinggi. Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya seseorang yang berstatus sosial tinggi cenderung memiliki dampak lebih dalam kelompok.

  • Mengapa Orang harus Berkonformitas?

            Terdapat 2 kemungkinan mengapa orang berkonformitas, yaitu:

  1. normative influence, yaitu orang berkonformitas yang didasarkan pada kehendak atau keinginan seseorang untuk memenuhi harapan-2 orang lain. Hal ini sering dilakukan agar yang melakukan tsb bisa diterima orang lain.
  2. informational influence yaitu konformitas merupakan hasil dari adanya bukti tentang realita yang diberikan orang lain. Kecenderungan seseorang untuk lebih berkonformitas ketika merespon kemauan publik yang merefleksikan normative influence. Sedangkan kecenderungan untuk lebih berkonformitas pada pengambilan keputusan tugas merefleksikan informational influence.
  • Siapa Saja yang Berkonformitas?
    • Gender

            Diantara warga Amerika yang berada dalam kelompok kondisi tertekan selama 30 thn, terdapat kecenderungan bagi wanita untuk lebih brkonformitas daripada laki-2. Akan tetapi, berdasarkan eksperimen terbaru, kini kaum wanita tidak lagi mudah berkonformitas. Hampir semua perbedaan gender dalam perilaku sosial juga tampaknya tidak lagi terpengaruh oleh investigator jenis kelamin. Sebelumnya dikatakan bahwa perempuan lebih mudah terpengaruh karena mereka lebih memperhatikan hubungan interpersonal yang mengatribusikan perbedaan individu.

Eagly & Wendy Wood percaya bahwa perbedaan dalam konformitas merupakan hasil dari peranan sosial pria & wanita yang telah terstereotipkan. Perbedaan laki-2 & perempuan tidak hanya perbedaan gender tetapi juga perbedaan status. Dalam kehidupan sehari-2, laki-2 cenderung menduduki posisi status & memiliki kekuasaan lebih tinggi sehingga sering kita lihat laki-2 menekan & kaum wanita merasakan dampaknya.

  • Personality (kepribadian)

            Sejarah psikososial yang berpikir tentang hubungan antara sifat kepribadian dengan perilaku sosial paralel yang menekankan tentang sikap & perilaku. Kepribadian seseorang/ individu memerlukan adanya hubungan dengan pribadi diluar dirinya atau perilaku sosial seperti konformitas & kepribadian sehingga  ada kecenderungan untuk berkonformitas dengan perilaku sosial lain.

  • Budaya

            Latar belakang budaya turut mempengaruhi dalam upaya bagaimana seseorang berkonformitas. Sebagai contoh tingkat konformitas masyarakat Libanon 31%, Hongkong 32%, mereka adalah suku-2 yang memiliki sanksi keras  untuk tidak berkonformitas, sedangkan orang  Norwegia & Perancis lebih cenderung berkonformitas.

  • Melawan Tekanan Sosial

            Manusia tidak seperti bola billiard yang hanya bisa dilempar semau pemain, tetapi manusia dapat bertindak untuk merespon tekanan-2 yang datang padanya. Mengetahui adanya seseorang yang mencoba untuk memaksa kita, hal ini akan mendorong kita untuk bereaksi mungkin dalam bentuk perlawanan.

  • Reactance

            Yaitu sebuah motif untuk melindungi atau memulihkan rasa kebebasan seseorang. Reactance muncul ketika ada seseorang yang mengancam aksi kebebasan kita. Teori dari psychological reactance mengatakan bahwasanya orang benar-2 bertindak untuk melindungi kebebasannya yang didukung oleh pertunjukan eksperimen-2 yang mencoba untuk membatasi kebebasan seseorang yang sering menghasilkan sebuah dampak boomerang.

Sebagai contoh ketika  seorang menghentikan kita di jalan & meminta kita untuk menandatangani surat permohonan, sementara kita mempertimbangkan permohonan tsb, ada orang lain yang bilang “Orang tidak seharusnya mendistribusikan atau menandatangani permohonan semacam itu”. Teori reactance memprediksikan bahwa jika ada perkataan yang tidak enak seperti itu akan membatasi kebebasan kita untuk memutuskan menandatangani.

  • Menilai keunikan (asserting uniqueness)

            Orang merasa sangat tidak nyaman ketika mereka berpenampilan begitu berbeda dengan orang lain di sekitarnya, akan tetapi di negara barat orang cenderung merasa tidak nyaman jika dirinya tamptl sama seperti orang lain. Memang dalam mengaplikasikan keunikan, kita tidak mau dilbilang orang yang menyimpang, akan tetapi kita semua mengekspresikan perbedaan kita melalui gaya & pakaian pribadi kita. Dengan demikian kita dalam bertindak untuk menghadirkan rasa keunikan & individualitas kita yaitu ketika dalam kelompok kita tampak berbeda dengan yang lainnya.

Berikan Komentar Tentang Ini :

Komentar