Etika Deskriptif Normatif dan Metaetika Beserta Contohnya

Etika Deskriptif Normatif dan MetaetikaEtika Deskriptif Normatif dan Metaetika Beserta Contohnya : etika adalah ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejau berkaitan dengan moralitas. Suatu cara lain untuk merumuskan hal yang sama adalah bahwa etika merupakan ilmu yang menyelidiki tingkah laku moral. Tetapi ada pelbagai cara untuk mempelajari moralitas atau pelbagai pendekatan ilmiah tentang tingkah laku moral. Di sini kita mengikuti pembagian atas tiga pendekatan yang dalam konteks ini sering diberikan, yaitu etika deskriptif, etika normative dan metaetika.

Etika Deskriptif

Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas, misalnya adat kebiasaan, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu-individu tertentu, dalam kebudayaan-kebudayaan atau subkultur-subkultur yang tertentu, dalam suatu periode sejarah dan sebagainya. Ketika etika deskriptif hanya melukiskan, ia tidka memberi penilaian. Misalnya, ia melukiskan adat mengayau kepala yang ditemukan dalam masyarakat yang disebut primitive, tapi ia tidak mengatakan bahwa adat semacam itu dapat diterima atau harus ditolak. Ia tidak mengemukakan penilaian moral. Atau contoh lain, etika deskriptif dapat mempelajari pandangan-pandangan moral dari Uni Soviet yang komunis dan ateis dulu : mengapa mereka  begitu permisif terhadap pengguguran kandungan, misalna, sedangkan dalam hal lain seperti pornografi mereka sangat ketat. Orang yang akanmenyelediki masalah ini ingin mengerti penilaian tentang penguguran kandangan atau pornografi sebagai masalah moral.

Sekarang ini etika deskriptif dijalankan oleh ilmu-ilmu sosial : antropologi budaya, psikologi, sosiologi, sejarah dan sebagainya. Studi-studi termasyhur tentang pekembangan kesadaran moral dalam hidup seorang manusia oleh psikolog Swiss Jean Pieget (1896—1980) dan psikolog Amerika Lawrence Kohlberg (1927—1988) merupakan contoh bagus mengenai etika deskriptif ini. Studi-studi sosiologis yang dilakukan dalam banyak negara tentang masalah prostitusi, dapat ketengahkan sebagai contoh lain lagi. Akan tetapi, karena ilmu-ilmu sosial, dibandingkan dengan filsafat, masih berumur agak muda (baru sekitar satu abad), maka tidak mengherankan, bila sebelum timbulnya ilmu pengetahuan sosial pendekatan ini sering dipraktekkan dalam rangka filsafat. Setelah mencapai kemandirian, tidka perlu lagi ilmu-ilmu sosial bekerja di bahwa nauangan filsafat. Dalam bagian ini akan dijelaskan lagi bahwa salah satu perbedaan pokok antara filsfat dan ilmu-ilmu sosial—bersifat empiris, artinya, membatasi diri pada pengalaman inderawi, sedangkan filsafat melampaui tahap empiris. Karena itu dapat dimengerti bahwa etika deskriptif ini sebetulnya termasuk ilmu pengetahuan empiris dan bukan filsafat.

Walaupun etika deskriptif dan etika filosofis tidak bisa disetarakan, namum diantara keduanya terdapat hubungan erat. Filsuf yang mempraktekkan etika, membutuhkan pengetahuan luas dan mendalam tentang moralitas dalam berbagai konteks budaya, supaya dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Kalau, misalnya, seorang etikawan ingin membentuk suatu pendirian yang berbobot tentang masalah korupsi, perlulah ia ketahui dulu bagaimana korupsi berfungsi dalam masyarakatnya sendiri dan dalam masyarakatnya sendiri dan dalam masyarakat-masyarakat lain, baik di zaman sekarang maupun di masa lampau. Dengan kata lain, sebelum mengemukakan pandangan filosofisnya tentang korupsi, ada baiknya ia mengetahui dulu pandangan sosiologis dan historis tentang masalah itu. Dan sebaliknya, seorang antropolog, psikolog, sosiolog atau sejarahwan yang menyoroti fenomena-fenomena moral, sebaiknya mempunyai pengetahuan cukup mendalam tentang teori etis. Bila mengenal sedikit juga etika dalam arti filsafat moral, penelitiannya tentang masalah moral akan lebih terarah dan lebih berbobot.

Etika Normatif

Etika normative merupakan bagian terpenting dari etika dan bidang dimana berlangsung diskusi-diskusi yang paling menarik tentang masalah moral. Di sini ahli bersangkutan tidak bertindak sebagai penonton netral, seperti halnya dalam etika deskriptif, tapi ia melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian tentang perilaku manusia. Ia tidak lagi melukiskan adat mengayau yang pernah terdapat dalam kebudayaan-kebudayaan di masa lampau, tapi ia menolak adat itu, karena bertentangan dengan martabat manusia. Ia tidak lagi membatasi diri dengan memandang fungsi prostitusi dalam suatu masyarakat, tapi menolak prostitusi sebagai suatu lembagan yang bertentangan dengan martabat wanita, biarpun dalam praktek belum tentu dapat diberantas sampai tuntas. Penilaian itu dibentuk atas dasar norma-norma. “Martabat manusia harus dihormati” dapat dianggap sebagai contoh tentang norma semacam itu. Tentu saja, etika deskriptif dapat juga berbicara tentang norma-norma, misalnya, bila iamembahas tabu-tabu yang terdapat dalam suatu masyarakat primitive. Tapi—kalau begitu—etika destriptif hanya melukiskan norma-norma itu. Ia tidak memeriksa apakah norma-norma itu sendiri benar atau tidak. Etika normative meninggalkan sikap netral itu dengan mendasarkan pendirian atas norma. Dan tentang norma-norma yang diterima dalam suatu masyarakat atau diterima oleh seorang filsuf lain iaberani bertanya apakah norma-norma itu benar atau tidak.

Hal yang sama bisa dirumuskan juga dengan mengatakan bahwa etika normative itu tidak deskriptif melainkan preskriptif (=memerintahkan), tidak melukiskan melainkan menentukan benar tidaknya tingkah laku atau anggapan moral. Untuk itu ia mengadakan argumentasi-argumentasi, jadi, ia mengemukakan alasan-alasan mengapa suatu tingkah laku harus disebut baik atau buruk dan mengapa suatu anggapan moral dapat dianggap benar atau salah. Pada akhirnya argumentasi-argumentasi itu akan bertumpu pada norma-norma atau prinsip-prinsip etis yang dianggap tidak dapat ditawar-tawar. Secara singkat dapat dikatakan, etika normative bertujuan merumuskan prinsip-prinsip etis yang dipertangungjawabkan dengan cara rasional dan dapat digunakan dalam praktek.

Etika normative dapat dibagi lebih lanjut dalam etika umum dan etika khusus.

  1. Etika umum memandang tema-tema umum seperti : apa itu norma etis? Jika ada banyak norma etis, bagaimana hubungan satu sama lain? Mengapa norma moral mengikat kita? Apa itu nilai dan apakah kekhususan nilai moral? Bagaimana hubungan antara tanggung jawab manusia dan kebebasannya? Dapat dipastikan bahwa manusia sungguh-sungguh bebas? Apakah yang dimaksud dengan “hak” dan “kewajiban” dan bagaimana perkaitannya satu sama lain? Syarat-syarat mana harus dipenuhi agar manusia dapat dianggap sungguh-sungguh baik dari sudut moral? Tema-tema seperti itulah menjadi objek penyelidikan etika umum.
  2. Etika khusus berusaha menerapkan prinsip-prinsip etis yang umum atas wilayah perilaku manusia yang khusus. Dengan menggunakan suatu istilah yang lazim dalam konteks logika, dapat dikatakan juga bahwa dalam etika khusus itu permis normative dikaitkan dengan premis factual untuk sampai pada suatu kesimpulan etis yang bersifat normative juga. Etika khusus mempunyai tradisi panjang dalam sejarah filsafat moral. Kini tradisi ini kerap kali dilanjutkan dengan memakai suatu nama baru, yaitu “etika terapan” (applied ethics).

Metaetika
Cara lain lagi untuk mempraktekkan etika sebagai ilmu adalah metaetika. Awalan meta- (dari bahasa Yunani) mempunyai arti “melebihi”, “melampaui”. Istilah ini diciptakan untuk menunjukkan bahwa yang dibahas di sini bukanlah moralitas secara langsung, melainkan ucapan-ucapan kita di bidang moralitas. Metaetika seolah-olah bergerak pada taraf lebih tinggi daripada perilaku etis, yaitu pada taraf “bahasa etis” atau bahasa yang kita pergunakan di bidang moral. Dapat dikatakan juga bahwa metaetika mempelajari logika khusus dari ucapan-ucapan etis. Dipandang dari segi tata bahasa, rupanya, kalimat-kalimat etis tidak berbeda dari kalimat-kalimat jenis lain (khususnya, kalimat-kalimat yang mengungkapkan fakta). Tapi studi lebih mendalam dapat menunjukkan bahwa kalimat-kalimat etika—dan pada umumnya bahasa etika—mempunyai ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh kalimat-kalimat lain. Metaetika mengarahkan perhatiannya kepada arti khusus dari bahasa etika itu. Filsuf Inggris Goerge Moore (1873—1958), misalnya, menulis sebuah buku terkenal yang sebagian terbesar terdiri dari analisis terhadap kata yang sangat penting dalam konteks etika, yaitu kata “baik”. Ia tidak bertanya apakah tingkah laku tertentu boleh disebut baik. Lebih kongkrit: ia tidak bertanya menjadi donor organ tubuh untuk ditransplantasi pada pasien yang membutuhkan boleh disebut baik dari sudut moral dan apakah syarat-syaratnya supaya dapat dikatakan baik (apakah perbuatan itu masih baik, jika organnya dijual?). Ia hanya bertanya ariti kata “baik”, bila dipakai dalam konteks etis. Ia hanya menyoroti arti khusus kata “baik” dengan membandingkan kalimat “Menjadi donor organ tubuh adalah perbuatan yang baik” dengan kalimat jenis lain seperti “Mobil ini masih dalam keadaan baik”.

Berikan Komentar Tentang Ini :

Komentar